Kisah Sukses Tukang Ojek di Sumba Timur Bangun Rumah dan Beli Mobil Dari Usaha Kelor

Rabu, 7 September 2022 - 09:44 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kupang-Suarafaktahukum.Com
Jatuh 7 kali bangun 8 kali demikian prinsip hidup salah satu Pelaku UMKM Kelor di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur. Namanya Eduardus Seran Kalau owner PT Kelor Marada. Ia perantau dari kabupaten Malaka namun karena mengambil istri orang Sumba Timur, jadilah Eduardus sebagai warga Sumba Timur. Ia membangun usaha kelornya dari Nol di Temu, Kecamatan Kanatang, Sumba Timur. Setelah berkomunikasi via WhatsApp dengan Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat , hidupnya kini telah berubah dari tukang ojek menjadi pengusaha kelor dengan omzet ratusan juta.

Dengan omzetnya itu Eduardus kini sudah memiliki rumah permanen dan Bahkan sudah memiliki mobil Toyota Rush. Semua Itu Eduardus tidak mendapatnya dengan mudah. Ia telah melalui banyak tantangan dan kegagalan dengan kristalisasi darah dan keringat.

” Saya memulai itu dari tahun 2018. Pada waktu itu ada pencanangan dari bapak Gubernur NTT (Viktor Bungtilu Laiskodat-Red) untuk seluruh desa tanam kelor. Disitu saya melihat bahwa ini peluang. Ada apa dibalik program kelor ini, kata saya dalam hati waktu itu. Pasti ada sesuatu yang besar, bagi kami sebagai seorang wirausaha. Akhirnya saya coba pelajari bagaimana caranya pengolahan Kelor ini. Maka dapatlah Chanel YouTube dari guru besar saya pak Dedi Krisnadi dari Dapur Kelor,” kata Eduardus dihadapan wartawan di dapur kelor , Senin, 05/09/2022.

Eduardus datang ke Kupang untuk mengikuti evaluasi bersama pelaku kelor yang tersebar di seluruh NTT. Evaluasi itu dilakukan oleh Dapur Kelor setiap 3 bulan dengan menghadirkan seluruh Pelaku Kelor atau UMKM yang selama ini konsen dalam budidaya dan pengolahan Kelor.

Eduardus cukup percaya diri ketika diminta wartawan untuk menceritakan kisah suksesnya dalam membangun bisnis kelornya. Ia menjelaskan dari chanel YouTube tersebut ia belajar bagaimana membuat serbuk kelor dalam skala kecil. Setelah itu ia menjualnya dan laku.

” Mungkin juga ada yang beli karena kasihan. Saya terus berjalan tapi dengan satu keyakinan suatu saat akan jadi besar. Ini bukan pengakuan indonesia atau daerah tapi pengakuan dunia dan telah melewati ribuan kali studi banding terkait kelor untuk penanganan Stunting. Dengan pemahaman itu membuat saya tetap konsisten,” jelasnya.

Eduardus dengan keyakinannya, menawarkan produk serbuk kelornya ke kelurahan Malumbi di Sumba Timur. Eduardus melakukan presentasi dan mendapat sambutan yang ia tidak pernah duga. Gayung bersambut sehingga ia mendapatkan omzet yang terus berkembang. Pihak kelurahan Malumbi membeli produknya senilai Rp. 5.000.000,-. Sebuah nilai uang yang besar bagi Eduardus yang baru banting stir dari tukang ojek dan papalele ikan.

” Istri saya bilang ini peluang. Akhirnya dari satu kelurahan itu saya coba tawarkan ke kelurahan lain. Yang uniknya tidak diundang tapi saya akan hadir. Acara apapun itu saya akan hadir meski tidak diundang untuk menawarkan olahan kelor yang saya punya. Tapi saya punya persoalan untuk menunjang proses produksi. Kalau bahan baku banyak karena Sumba timur di tempat tinggal saya letaknya dekat pantai apalagi habitatnya 0 sampai dengan 5000 MDPL Jadi banyak sekali kelor,” ujarnya.

Ushan kelor Eduardus berubah ketika suatu waktu ia ikut kegiatan Balai POM terkait UMKM di Sumba Timur .Pada momentum itu, Ketua Dekranasda NTT hadir sebagai Pemateri. Itulah perjumpaan awalnya dengan Julie Sutrisno Laiskodat. Bermodal nomor kontak Julie Sutrisno Laiskodat, ia telah menyimpan sebuah harapan untuk bisa berkomunikasi dengan istri Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat ini.

” Saya dapat nomor WhatsApp bunda Julie dan saya langsung Wa. Saya menyampaikan, Bunda saya produksi Kelor tetapi kalau tidak ada dampingi dan bimbing saya tidak maju. Saya ingat persis jawaban bunda waktu itu. Nanti ada orang Bunda yang nama Kiky yang akan yang akan hubungi pak Edi (Eduardus-Red) kata Bunda ketika membalas Wa. Sejak dari situ saya bilang wah berarti saya tidak sendiri yang main kelor,” ujarnya.

Tak butuh waktu yang lama kata Eduardus. Ia dihubungi oleh Kiky karena Bunda Julie juga sudah mengirimkan nomor kontak Kiky. Semenjak itu ia mendapat pendampingan dari Dekranasda NTT melalui Dapur Kelor. Apa yang diajar dan didampingi oleh Dapur Kelor , Eduardus selalu manut dan tekun melakukan semuanya.

” Saya dapat bantuan dari Dekranasda NTT 1 unit mesin pengering dan mesin spinner 1 unit, 1 unit mesin penepung dan 1 unit mesin pengemasan. Bantuan itu membuat saya lebih semangat lagi dalam bekerja terkait kelor,” kata Eduardus.

Waktu terus berjalan dan Eduardus terus bergerak dalam iramanya. Sejalan dengan program pemerintah Provinsi NTT untuk menurunkan angka Stunting, Ia sudah membaca peluang itu dengan masuk ke setiap pelosok desa untuk menawarkan kelor sebagai jalan satu satunya dalam penanganan stunting.

” Apalagi pada musim penghujan, saya lihat di desa desa orang suka makan mie dengan nasi. Padahal kan sama sama karbohidrat.nasi ketemu nasi lalu apa gizinya. Sehingga saya punya niat untuk perjuangkan ini ke desa desa.,” Paparnya.

Ia mulai turun ke setiap untuk melakukan presentasi. Ia mengungkapkan banyak tanggapan beragam soal presentasinya itu. Ada yang percaya ada yang tidak percaya. Eduardus kemudia memokuskan dirinya pada kelompok-kelompok yang percaya terkait manfaat kelor dalam penanganan stunting. Dari kegigihan dalam melakukan presentasi ia mendapat respon dari beberapa desa.

” Saya melihat peluang itu ada di desa karena ada dana pembedayaan kurang lebih 30 persen dari total dana desa dan tahun depan itu sudah naik 40 persen Setiap desa,” kata Eduardus.

Dampak dari usaha kelor selain untuk penanganan stunting juga memiliki dampak luar biasa dalam kehidupan pribadinya. Eduardus dulu yang melarat karena menggantungkan hidupnya pada jasa ojek, kini telah berubah total. Ia tak lagi gunda gulana karena pemasukan yang seret. Ia tak lagi berteduh dibawah tempat tinggal yang seadanya dan sempit. Ia telah bertransformasi dari yang serba kekurangan menjadi Eduardus yang sukses. Semua karena Kelor.

” Saya dulu ojek dan susah. Sudah 17 kali berusaha namun gagal terus. Saya sempat hampir menyerah sampai saya lihat langit. Tuhan kenapa saya begini terus. Saya sudah merantau dengan modal baju di badan apalagi saya ambil istri orang Sumba. Tapi ingat pepatah Tiongkok kalau 7 kali jatuh harus bangun 8 kali. Ini saya sudah terlanjur merantau dan harus berjuang. Dan Tuhan mempertemukan saya dengan Kelor. Dan Tuhan memberkati saya,”kata Eduardus.

Dari rumah bebak ukuran 5*7 kini Eduardus sudah bangun rumah permanen ukuran 7×9 dan rumah produksi Kelor berukuran 16x 4.

” Puji Tuhan , beberapa waktu kemarin saya baru beli mobil Toyota Rush. Itu semua hasil dari kelor,” kata Eduardus.

Eduardus mengaku tidak pernah membayangkan bisa berada pada titik ini. Dari kegagalan demi kegagalannya, Tuhan telah mempertemukan Eduardus dan Kelor. Tanaman yang dulu dipersepsikan sebagai sayuran biasa dan pagar pembatas kebun, kini telah mengantar Eduardus sebagai orang sukses.

Ia mengatakan tak hanya pengentasan Stunting, transformasi hidup yang miskin menjadi sukses, kelor juga mengubah hidup kelompok tani disekitarnya. Ada yang memiliki omzet hingga 8 jutaan perbulan dari tanaman kelor. Bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan buat pengangguran dalam ekosistem budidaya dan pengelohan Kelor.

” Saya juga bentuk tim pencari kelor liar yang singkat PKl. Jadi kelor diseputaran kota habis saya buat. Tambah lagi Koramil 05 di kota Waingapu jadi tambah ramai sudah orang berburu kelor dan budidaya kelor. Ditempat saya ada 5 tim yang membantu produksi Kelor dan jaringan pemasaran saya adalah desa desa yang sudah saya presentasi tadi,” jelasnya.

Pada kesempatan itu ia mengucapkan terimakasih kepada Viktor Bungtilu Laiskodat dan Julie Sutrisno Laiskodat yang meretas jalan baginya untuk mendulang sukses dari tanaman kelor.

” Tanpa mereka saat ini mungkin saya masih tukang ojek. Dan pak Dedy sebagai bapak yang sudah membimbing saya dijalan ini.kalau bukan karena Chanel YouTube nya saya masih ojek juga,” ujarnya terharu.Kisah Sukses Tukang Ojek di Sumba Timur Bangun Rumah dan Beli Mobil Dari Usaha Kelor

Kupang, NTTPedia.id,- Jatuh 7 kali bangun 8 kali demikian prinsip hidup salah satu Pelaku UMKM Kelor di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur. Namanya Eduardus Seran Kalau owner PT Kelor Marada. Ia perantau dari kabupaten Malaka namun karena mengambil istri orang Sumba Timur, jadilah Eduardus sebagai warga Sumba Timur. Ia membangun usaha kelornya dari Nol di Temu, Kecamatan Kanatang, Sumba Timur. Setelah berkomunikasi via WhatsApp dengan Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat , hidupnya kini telah berubah dari tukang ojek menjadi pengusaha kelor dengan omzet ratusan juta.

Dengan omzetnya itu Eduardus kini sudah memiliki rumah permanen dan Bahkan sudah memiliki mobil Toyota Rush. Semua Itu Eduardus tidak mendapatnya dengan mudah. Ia telah melalui banyak tantangan dan kegagalan dengan kristalisasi darah dan keringat.

” Saya memulai itu dari tahun 2018. Pada waktu itu ada pencanangan dari bapak Gubernur NTT (Viktor Bungtilu Laiskodat-Red) untuk seluruh desa tanam kelor. Disitu saya melihat bahwa ini peluang. Ada apa dibalik program kelor ini, kata saya dalam hati waktu itu. Pasti ada sesuatu yang besar, bagi kami sebagai seorang wirausaha. Akhirnya saya coba pelajari bagaimana caranya pengolahan Kelor ini. Maka dapatlah Chanel YouTube dari guru besar saya pak Dedi Krisnadi dari Dapur Kelor,” kata Eduardus dihadapan wartawan di dapur kelor , Senin, 05/09/2022.

Eduardus datang ke Kupang untuk mengikuti evaluasi bersama pelaku kelor yang tersebar di seluruh NTT. Evaluasi itu dilakukan oleh Dapur Kelor setiap 3 bulan dengan menghadirkan seluruh Pelaku Kelor atau UMKM yang selama ini konsen dalam budidaya dan pengolahan Kelor.

Eduardus cukup percaya diri ketika diminta wartawan untuk menceritakan kisah suksesnya dalam membangun bisnis kelornya. Ia menjelaskan dari chanel YouTube tersebut ia belajar bagaimana membuat serbuk kelor dalam skala kecil. Setelah itu ia menjualnya dan laku.

” Mungkin juga ada yang beli karena kasihan. Saya terus berjalan tapi dengan satu keyakinan suatu saat akan jadi besar. Ini bukan pengakuan indonesia atau daerah tapi pengakuan dunia dan telah melewati ribuan kali studi banding terkait kelor untuk penanganan Stunting. Dengan pemahaman itu membuat saya tetap konsisten,” jelasnya.

Eduardus dengan keyakinannya, menawarkan produk serbuk kelornya ke kelurahan Malumbi di Sumba Timur. Eduardus melakukan presentasi dan mendapat sambutan yang ia tidak pernah duga. Gayung bersambut sehingga ia mendapatkan omzet yang terus berkembang. Pihak kelurahan Malumbi membeli produknya senilai Rp. 5.000.000,-. Sebuah nilai uang yang besar bagi Eduardus yang baru banting stir dari tukang ojek dan papalele ikan.

” Istri saya bilang ini peluang. Akhirnya dari satu kelurahan itu saya coba tawarkan ke kelurahan lain. Yang uniknya tidak diundang tapi saya akan hadir. Acara apapun itu saya akan hadir meski tidak diundang untuk menawarkan olahan kelor yang saya punya. Tapi saya punya persoalan untuk menunjang proses produksi. Kalau bahan baku banyak karena Sumba timur di tempat tinggal saya letaknya dekat pantai apalagi habitatnya 0 sampai dengan 5000 MDPL Jadi banyak sekali kelor,” ujarnya.

Ushan kelor Eduardus berubah ketika suatu waktu ia ikut kegiatan Balai POM terkait UMKM di Sumba Timur .Pada momentum itu, Ketua Dekranasda NTT hadir sebagai Pemateri. Itulah perjumpaan awalnya dengan Julie Sutrisno Laiskodat. Bermodal nomor kontak Julie Sutrisno Laiskodat, ia telah menyimpan sebuah harapan untuk bisa berkomunikasi dengan istri Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat ini.

” Saya dapat nomor WhatsApp bunda Julie dan saya langsung Wa. Saya menyampaikan, Bunda saya produksi Kelor tetapi kalau tidak ada dampingi dan bimbing saya tidak maju. Saya ingat persis jawaban bunda waktu itu. Nanti ada orang Bunda yang nama Kiky yang akan yang akan hubungi pak Edi (Eduardus-Red) kata Bunda ketika membalas Wa. Sejak dari situ saya bilang wah berarti saya tidak sendiri yang main kelor,” ujarnya.

Tak butuh waktu yang lama kata Eduardus. Ia dihubungi oleh Kiky karena Bunda Julie juga sudah mengirimkan nomor kontak Kiky. Semenjak itu ia mendapat pendampingan dari Dekranasda NTT melalui Dapur Kelor. Apa yang diajar dan didampingi oleh Dapur Kelor , Eduardus selalu manut dan tekun melakukan semuanya.

” Saya dapat bantuan dari Dekranasda NTT 1 unit mesin pengering dan mesin spinner 1 unit, 1 unit mesin penepung dan 1 unit mesin pengemasan. Bantuan itu membuat saya lebih semangat lagi dalam bekerja terkait kelor,” kata Eduardus.

Waktu terus berjalan dan Eduardus terus bergerak dalam iramanya. Sejalan dengan program pemerintah Provinsi NTT untuk menurunkan angka Stunting, Ia sudah membaca peluang itu dengan masuk ke setiap pelosok desa untuk menawarkan kelor sebagai jalan satu satunya dalam penanganan stunting.

” Apalagi pada musim penghujan, saya lihat di desa desa orang suka makan mie dengan nasi. Padahal kan sama sama karbohidrat.nasi ketemu nasi lalu apa gizinya. Sehingga saya punya niat untuk perjuangkan ini ke desa desa.,” Paparnya.

Ia mulai turun ke setiap untuk melakukan presentasi. Ia mengungkapkan banyak tanggapan beragam soal presentasinya itu. Ada yang percaya ada yang tidak percaya. Eduardus kemudia memokuskan dirinya pada kelompok-kelompok yang percaya terkait manfaat kelor dalam penanganan stunting. Dari kegigihan dalam melakukan presentasi ia mendapat respon dari beberapa desa.

” Saya melihat peluang itu ada di desa karena ada dana pembedayaan kurang lebih 30 persen dari total dana desa dan tahun depan itu sudah naik 40 persen Setiap desa,” kata Eduardus.

Dampak dari usaha kelor selain untuk penanganan stunting juga memiliki dampak luar biasa dalam kehidupan pribadinya. Eduardus dulu yang melarat karena menggantungkan hidupnya pada jasa ojek, kini telah berubah total. Ia tak lagi gunda gulana karena pemasukan yang seret. Ia tak lagi berteduh dibawah tempat tinggal yang seadanya dan sempit. Ia telah bertransformasi dari yang serba kekurangan menjadi Eduardus yang sukses. Semua karena Kelor.

” Saya dulu ojek dan susah. Sudah 17 kali berusaha namun gagal terus. Saya sempat hampir menyerah sampai saya lihat langit. Tuhan kenapa saya begini terus. Saya sudah merantau dengan modal baju di badan apalagi saya ambil istri orang Sumba. Tapi ingat pepatah Tiongkok kalau 7 kali jatuh harus bangun 8 kali. Ini saya sudah terlanjur merantau dan harus berjuang. Dan Tuhan mempertemukan saya dengan Kelor. Dan Tuhan memberkati saya,”kata Eduardus.

Dari rumah bebak ukuran 5*7 kini Eduardus sudah bangun rumah permanen ukuran 7×9 dan rumah produksi Kelor berukuran 16x 4.

” Puji Tuhan , beberapa waktu kemarin saya baru beli mobil Toyota Rush. Itu semua hasil dari kelor,” kata Eduardus.

Eduardus mengaku tidak pernah membayangkan bisa berada pada titik ini. Dari kegagalan demi kegagalannya, Tuhan telah mempertemukan Eduardus dan Kelor. Tanaman yang dulu dipersepsikan sebagai sayuran biasa dan pagar pembatas kebun, kini telah mengantar Eduardus sebagai orang sukses.

Ia mengatakan tak hanya pengentasan Stunting, transformasi hidup yang miskin menjadi sukses, kelor juga mengubah hidup kelompok tani disekitarnya. Ada yang memiliki omzet hingga 8 jutaan perbulan dari tanaman kelor. Bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan buat pengangguran dalam ekosistem budidaya dan pengelohan Kelor.

” Saya juga bentuk tim pencari kelor liar yang singkat PKL. Jadi kelor diseputaran kota habis saya buat. Tambah lagi Koramil 05 di kota Waingapu jadi tambah ramai sudah orang berburu kelor dan budidaya kelor. Ditempat saya ada 5 tim yang membantu produksi Kelor dan jaringan pemasaran saya adalah desa desa yang sudah saya presentasi tadi,” jelasnya.

Pada kesempatan itu ia mengucapkan terimakasih kepada Viktor Bungtilu Laiskodat dan Julie Sutrisno Laiskodat yang meretas jalan baginya untuk mendulang sukses dari tanaman kelor.

” Tanpa mereka saat ini mungkin saya masih tukang ojek. Dan pak Dedy sebagai bapak yang sudah membimbing saya dijalan ini.kalau bukan karena Chanel YouTube nya saya masih ojek juga,” ujarnya terharu.(sfh)

Berita Terkait

Pemprov NTT Serahkan SK Pengangkatan kepada 1443 Guru PPPK Tahun 2023
Danrem 161/Wira Sakti pimpin Acara Sertijab dan Laporan Tradisi Korps Kasi Log Kasrem 161/Wira Sakti
Pj. Gubernur NTT Gelar Jamuan Makan Malam Bersama Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Para Kardinal dan Para Uskup Se-Indonesia dan Timor Leste
Lantik Penjabat Bupati Kupang dan Ende, Ayodhia Kalake Minta Berikan Pengabdian dan Pelayanan yang Tulus
Penjabat Gubernur Ayodhia Kalake Lantik dan Kukuhkan 27 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Lingkup Pemprov NTT
Penjabat Gubernur Launching Alat Kesehatan Kateterisasi Jantung di RSUD. Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang
Penjabat Gubernur Buka Kegiatan Bakti Sosial Operasi Katarak dan Penghijauan di Lingkungan RSUP dr.Ben Mboi
Anggota TNI Mendapat Penyuluhan Hukum di Makorem 161/Wira Sakti

Berita Terkait

Senin, 8 Juli 2024 - 11:47 WITA

Pemprov NTT Serahkan SK Pengangkatan kepada 1443 Guru PPPK Tahun 2023

Sabtu, 11 Mei 2024 - 08:33 WITA

Danrem 161/Wira Sakti pimpin Acara Sertijab dan Laporan Tradisi Korps Kasi Log Kasrem 161/Wira Sakti

Kamis, 9 Mei 2024 - 17:19 WITA

Pj. Gubernur NTT Gelar Jamuan Makan Malam Bersama Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Para Kardinal dan Para Uskup Se-Indonesia dan Timor Leste

Kamis, 28 Maret 2024 - 12:45 WITA

Penjabat Gubernur Ayodhia Kalake Lantik dan Kukuhkan 27 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Lingkup Pemprov NTT

Minggu, 10 Maret 2024 - 11:33 WITA

Penjabat Gubernur Launching Alat Kesehatan Kateterisasi Jantung di RSUD. Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang

Minggu, 10 Maret 2024 - 11:00 WITA

Penjabat Gubernur Buka Kegiatan Bakti Sosial Operasi Katarak dan Penghijauan di Lingkungan RSUP dr.Ben Mboi

Kamis, 29 Februari 2024 - 12:42 WITA

Anggota TNI Mendapat Penyuluhan Hukum di Makorem 161/Wira Sakti

Rabu, 28 Februari 2024 - 07:37 WITA

Inovasi Hebat, Masyarakat Belu yang Sehat, Berkarakter dan Kompetitif

Berita Terbaru